Powered by OpenAIRE graph
Found an issue? Give us feedback
image/svg+xml art designer at PLoS, modified by Wikipedia users Nina, Beao, JakobVoss, and AnonMoos Open Access logo, converted into svg, designed by PLoS. This version with transparent background. http://commons.wikimedia.org/wiki/File:Open_Access_logo_PLoS_white.svg art designer at PLoS, modified by Wikipedia users Nina, Beao, JakobVoss, and AnonMoos http://www.plos.org/ ZENODOarrow_drop_down
image/svg+xml art designer at PLoS, modified by Wikipedia users Nina, Beao, JakobVoss, and AnonMoos Open Access logo, converted into svg, designed by PLoS. This version with transparent background. http://commons.wikimedia.org/wiki/File:Open_Access_logo_PLoS_white.svg art designer at PLoS, modified by Wikipedia users Nina, Beao, JakobVoss, and AnonMoos http://www.plos.org/
ZENODO
Book . 2018
License: CC BY
Data sources: Datacite
image/svg+xml art designer at PLoS, modified by Wikipedia users Nina, Beao, JakobVoss, and AnonMoos Open Access logo, converted into svg, designed by PLoS. This version with transparent background. http://commons.wikimedia.org/wiki/File:Open_Access_logo_PLoS_white.svg art designer at PLoS, modified by Wikipedia users Nina, Beao, JakobVoss, and AnonMoos http://www.plos.org/
ZENODO
Book . 2018
License: CC BY
Data sources: ZENODO
image/svg+xml art designer at PLoS, modified by Wikipedia users Nina, Beao, JakobVoss, and AnonMoos Open Access logo, converted into svg, designed by PLoS. This version with transparent background. http://commons.wikimedia.org/wiki/File:Open_Access_logo_PLoS_white.svg art designer at PLoS, modified by Wikipedia users Nina, Beao, JakobVoss, and AnonMoos http://www.plos.org/
ZENODO
Book . 2018
License: CC BY
Data sources: Datacite
versions View all 2 versions
addClaim

Konversi Agama : Dampak Dan Makna Bagi Masyarakat Pakuseba

Authors: Raka, I Nyoman; Sudarsana, I Ketut;

Konversi Agama : Dampak Dan Makna Bagi Masyarakat Pakuseba

Abstract

Konversi agama dari Hindu ke Kristen yang terjadi pada sejumlah warga masyarakat Hindu di Pakuseba telah membawa pergeseran paradigma berpikir masyarakat dari paradigma pluralis ke paradigma kritis dan kembali ke paradigma pluralis. Model berpikir paradigma pluralis tahap pertama ditandai dengan kehidupan masyarakat yang paras paros salunglung sabayan taka. Artinya, bersatu padu dalam ikatan pasukadukaan masyarakat Pakuseba. Model berpikir seperti ini menjadi ciri khas masyarakat Hindu sebagai pengaruh peradaban Hindu yang dibawa pedagang dan pendeta India ke Bali. Homogenitas masyarakat Hindu di Pakuseba sebelum terjadi konversi agama dari Hindu ke Kristen sarat diwarnai hubungan sosial yang berparadigma pluralis. Cara berpikir berdasarkan paradigma pluralis yang berkembang di lingkungan masyarakat Pakuseba terlihat pascakonversi agama dari Hindu ke Kristen. Kebersamaan dalam perbedaan agama antara umat Hindu dengan umat Kristen di Pakuseba tercermin dalam tradisi penguburan mayat. PWS mengatakan ‘...sampai tahun 1966 umat Kristen di Pakuseba menguburkan mayatnya di kuburan adat Pakuseba. Tidak ada masalah, kalau dilihat dari prosesi penguburan, selalu melibatkan kebersamaan antara umat Hindu dan umat Kristen, tanpa dinodai oleh perbedaan agama...’. Dengan tegas PWS mengatakan bagi kami masalah hubungan sosial di Pakuseba adalah harga mati. Tidak bisa diganggu, dipengaruhi oleh pihak mana pun termasuk oleh peristiwa konversi agama. Penguburan bersama di kuburan yang sama (di antara Hindu dan Kristen di Pakuseba) oleh masyarakat Pakuseba yang berbeda agama menjadi indikator paradigma pluralis di lingkungan masyarakat Pakuseba. Dalam konteks waktu, hal ini berlangsung selama 17 tahun pertama (1949 sampai dengan tahun 1966). Indikator paradigma pluralis yang lain ditemukan, baik dalam kegiatan keagamaan maupun dalam kegiatan ekonomi. Dalam konteks kegiatan keagamaan khususnya dalam kegiatan manusa yadnya cukup sering, bahkan telah menjadi tradisi keterlibatan umat Kristn dalam kegiatan Hindu. Sebaliknya, kegiatan perkawinan umat Kristen dihadiri oleh umat Hindu. Hal ini dimungkinkan karena secara geneologis antara umat Kristen dan umat Hindu di Pakuseba masih saling juang kejuang. Artinya, masih ada ikatan yang disebabkan oleh faktor keluarga dan faktor perkawinan. Hal ini menjadi penyebab model berpikir pluralis berkembang di Pakuseba, baik sebelum maupun pascakonversi dari Hindu ke Kristen. Pada dimensi ekonomi, terjadi hal serupa. I Kacir adalah umat Hindu, menakala membutuhkan tempat bangunan rumah untuk tempat tinggalnya, maka dibantu oleh I Togog. I Togog memberikan tanah secara cuma-cuma kepada I Kacir untuk kepentingan pembangunan rumah yang bisa di tempati. Dengan demikian, secara ekonomi perbedaan antara umat Kristen dengan umat Hindu di Pakuseba masih memiliki titik kebersamaan tujuan, yakni tolong-menolong di antara sesama. Pergeseran cara berpikir masyarakat Pakuseba dari paradigma pluralis ke paradigma kritis terlihat sejak tahun 1966 sampai dengan tahun 1999. Pada masa ini terjadi sikap saling mengkritisi di antara umat Hindu dengan umat Kristen di Pakuseba. Dua komunitas ini saling mengkritik untuk kepentingan saling mendominasi yang lain. Umat Kristen memandang umat Hindu menganut agama kegelapan, apatis, dan agama konservatif. Akibat dari karakteristik agama seperti ini agama Hindu sudah selayaknya ditinggalkan untuk diganti dengan agama Kristen. Umat Kristen memandang agama Kristen lebih maju, lebih rasional, dan agama yang lebih menjanjikan masa depan yang lebih cerah. Umat Hindu tidak kalah dalam menilai agama Kristen. Pada masa inilah Hindu melakukan gerakan-gerekan, yaitu gerakan ngingetin duen desa, gerakan banjar solas, memasalahkan pemasangan papan nama gereja yang anggotanya belum mencapai 100 KK. Konflik ini berakhir dengan berdirinya sebuah lembaga masyarakat yang disebut Lembaga Musyawarah Banjar (LMB) pada tahun 2007. Mulai saat itu dua komunitas umat bergama, yakni umat Hindu dan umat Kristen menerima putusan-putusan musyawarah yang dihasilkan LMB. Ketika LMB memutuskan bahwa umat Kristen harus membayar iuran berupa beras kepada masyarakat desa pakraman, umat Kristen pun bisa menerima dan membayarnya. Ketika LMB mewajibkan umat Kristen membayar patus ngaben dan patus kematian kepada pihak keluarga yang ditimpa kematian dan pihak keluarga yang memiliki kegiatan upacara ngaben, maka pihak umat Kristen siap mengikuti perintah LMB. Dengan demikian, lahirnya LMB menjadi tonggak berakhirnya paradigma kristis dan memulai paradigma pluralis tahap kedua. Di atas telah dipaparkan bahwa pergeseran paradigma berpikir dari paradigma kritis ke paradigma pluralis tahap dua ditandai dengan adanya sejumlah kesepakatan antara umat Hindu dan umat Kristen atas hasil musyawarah LMB Pakuseba. Sejumlah kesepatakatan yang dimaksud menyangkut putusan iuran umat Kristen ke desa pakraman yang dibayarkan dalam bentuk beras, iuran dalam bentuk patus ngaben, dan iuran untuk patus kematian. Selain itu, juga disepakati masalah tradisi penguburan, baik untuk masyarakat Hindu maupun tradisi untuk mayat umat Kristen. Secara singkat kesepakatan ini bisa disebutkan bahwa tradisi penguburan, baik di pihak umat Hindu maupun di pihak umat Kristen, dihadiri oleh semua warga Pakuseba tanpa memandang perbedaan agama. Tidak saja menghadiri ritual penguburan, sampai pelaksanaan magebangan dalam tradisi Hindu dan kebaktian penghiburan di pihak Kristen pun harus dihadiri oleh seluruh krama Pakuseba tanpa melihat perbedaan agama.

Keywords

Konversi Agama

  • BIP!
    Impact byBIP!
    selected citations
    These citations are derived from selected sources.
    This is an alternative to the "Influence" indicator, which also reflects the overall/total impact of an article in the research community at large, based on the underlying citation network (diachronically).
    0
    popularity
    This indicator reflects the "current" impact/attention (the "hype") of an article in the research community at large, based on the underlying citation network.
    Average
    influence
    This indicator reflects the overall/total impact of an article in the research community at large, based on the underlying citation network (diachronically).
    Average
    impulse
    This indicator reflects the initial momentum of an article directly after its publication, based on the underlying citation network.
    Average
    OpenAIRE UsageCounts
    Usage byUsageCounts
    visibility views 6
    download downloads 2
  • 6
    views
    2
    downloads
    Powered byOpenAIRE UsageCounts
Powered by OpenAIRE graph
Found an issue? Give us feedback
visibility
download
selected citations
These citations are derived from selected sources.
This is an alternative to the "Influence" indicator, which also reflects the overall/total impact of an article in the research community at large, based on the underlying citation network (diachronically).
BIP!Citations provided by BIP!
popularity
This indicator reflects the "current" impact/attention (the "hype") of an article in the research community at large, based on the underlying citation network.
BIP!Popularity provided by BIP!
influence
This indicator reflects the overall/total impact of an article in the research community at large, based on the underlying citation network (diachronically).
BIP!Influence provided by BIP!
impulse
This indicator reflects the initial momentum of an article directly after its publication, based on the underlying citation network.
BIP!Impulse provided by BIP!
views
OpenAIRE UsageCountsViews provided by UsageCounts
downloads
OpenAIRE UsageCountsDownloads provided by UsageCounts
0
Average
Average
Average
6
2
Green