
Perkembangan media sosial pada era digital telah membawa perubahan besar dalam berbagai aspek kehidupan manusia, terutama dalam cara individu membangun, menampilkan, dan mempertahankan identitas dirinya di ruang publik. Kehadiran berbagai platform media sosial seperti Instagram, X, TikTok, dan Facebook tidak hanya menjadi sarana komunikasi dan pertukaran informasi, tetapi juga berkembang menjadi ruang sosial baru yang memungkinkan individu memperoleh perhatian, pengakuan, serta penerimaan dari lingkungan sosialnya. Media sosial memberikan kesempatan bagi pengguna untuk menampilkan berbagai bentuk representasi diri melalui unggahan foto, video, opini, maupun aktivitas interaksi digital lainnya. Dalam konteks tersebut, aktivitas di media sosial sering kali tidak terlepas dari kebutuhan individu terhadap social validation atau validasi sosial, yaitu kebutuhan untuk mendapatkan pengakuan, apresiasi, dan penerimaan dari orang lain melalui respons sosial yang muncul di ruang digital. Respons seperti likes, komentar, shares, maupun dukungan dari sesama pengguna menjadi bentuk simbolik penerimaan sosial yang dapat memengaruhi cara individu memandang dirinya sendiri di lingkungan digital (Alviano & Saloom, 2022). Fenomena kebutuhan akan social validation di media sosial semakin berkembang seiring meningkatnya intensitas penggunaan media sosial pada berbagai kelompok usia, khususnya generasi muda. Individu tidak hanya menggunakan media sosial sebagai sarana hiburan atau komunikasi, tetapi juga sebagai media untuk membangun citra diri dan menunjukkan identitas sosial yang dimiliki. Dalam kondisi ini, media sosial berfungsi sebagai ruang performatif di mana individu secara sadar maupun tidak sadar berusaha menampilkan sisi tertentu dari dirinya agar mendapatkan pengakuan sosial dari kelompok yang dianggap relevan. Identitas yang ditampilkan di media sosial kemudian tidak lagi bersifat personal semata, melainkan menjadi bagian dari proses sosial yang dipengaruhi oleh respons dan penilaian publik digital. Akibatnya, individu cenderung membangun identitas yang sesuai dengan ekspektasi sosial kelompok tertentu demi mempertahankan rasa diterima dan diakui dalam komunitas digitalnya (Alviano & Saloom, 2022)
