
doi: 10.14203/press.307
Dibalik kelezatannya, nyatanya cokelat (kakao) memerlukan daya olah yang tidak sederhana. Barangkali sebagian besar dari kita juga tidak tahu bahwa biji cokelat Indonesia sering dihargai rendah di skala pasar internasional. Suatu paradoks sebetulnya mengingat Indonesia termasuk enam besar negara pemasok kakao di dunia. Apa yang sebenarnya terjadi? Mengapa harga biji kakao asal Indonesia masih rendah dibandingkan kakao dari negara lain? Bagaimana petani kakao dapat berperan maksimal dalam meningkatkan kualitas biji kakaonya sehingga dalam tataran nasional bukan tidak mungkin perekonomian negara juga akan semakin meningkat. Temukan jawaban selengkapnya dalam buku ini. Runutan uraian—dari mengapa biji kakao Indonesia rendah, variatif persoalan yang dihadapi petani kakao Indonesia, jenis-jenis kakao hingga bagaimana mengolah biji kakao dalam tiap tahapnya yang akan berdampak pada cita rasa dan aroma cokelat yang dihasilkan—dijelaskan secara singkat dan padat dalam buku ini. Oleh karena itu, buku ini cocok dibaca oleh siapa saja yang tertarik mengungkap fenomena persoalan cokelat Indonesia serta bagaimana solusi yang tepat untuk mengurai persoalan-persoalan yang ada.
| selected citations These citations are derived from selected sources. This is an alternative to the "Influence" indicator, which also reflects the overall/total impact of an article in the research community at large, based on the underlying citation network (diachronically). | 1 | |
| popularity This indicator reflects the "current" impact/attention (the "hype") of an article in the research community at large, based on the underlying citation network. | Average | |
| influence This indicator reflects the overall/total impact of an article in the research community at large, based on the underlying citation network (diachronically). | Average | |
| impulse This indicator reflects the initial momentum of an article directly after its publication, based on the underlying citation network. | Average |
