search
Include:
59 Research products, page 1 of 6

10
arrow_drop_down
Relevance
arrow_drop_down
  • Open Access
    Authors: 
    Kirom, Syahrul;
    Publisher: Jurusan Aqidah dan Filsafat Islam Fakultas Ushuluddin dan Adab UIN Sultan Maulana Hasanuddin Banten

    This paper examines the divine philosophy of Muhammad Iqbal's thought. Iqbal tries to understand God by using ego. The ego is a representation of God. In the ego, religious experience is more important as an effort to get closer to God. This research method uses a descriptive-analytical approach. The study found that Muhammad Iqbal's understanding of God put more emphasis on an esoteric approach, not an exoteric approach. The conception of divine philosophy according to Muhammad Iqbal is actually how to function human potential, by always implementing Islamic teachings and the concept of monotheism. Thus, Muslims can practice monotheism in carrying out their worship.

  • Publication . Article . 2017
    Open Access English
    Authors: 
    Muhammad Alif;
    Publisher: Jurusan Aqidah dan Filsafat Islam Fakultas Ushuluddin dan Adab UIN Sultan Maulana Hasanuddin Banten

    Konsep bersatunya manusia dengan Tuhan (ittiĥād) dan berkomunikasinya manusia dengan Tuhan (ittişāl) telah tertanam dalam pemikiran kaum sufi sejak dulu, walaupun sebagian orang yang anti taşawwuf menggugat dan menyangkal kedua ajaran tersebut sebagai ajaran Islam. Bagi mereka kedua ajaran itu sering dipandang sebagai perbuatan syirik, karena dianggap sebagai ajaran yang memandang Tuhan sebagai imanen tidak transenden serta mengabaikan dualitas antara Tuhan dan makhluk-Nya.

  • Open Access
    Authors: 
    Samian Hadisaputra;
    Publisher: Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LP2M) Universitas Islam Negeri (UIN) Sultan Maulana Hasanuddin Banten

    Hasan Al-Banna merupakan sosok pendakwah yang memiliki jiwa militansi yang agung siap dengan segala resiko dan konsekuensinya dalam menjalankan tugas sucinya. Dengan ketegaran dan ketulusan yang dimilikinya membuat pemikiran dan gerakan dakwanya berkembang pesat keseluruh dunia Islam hingga saat ini , walaupun di tempat kelahirannya gerakan dakwah Hasan al-Banna yang terorganisir melalui Ihkwanul Muslimin dibubarkan di Mesir.

  • Open Access English
    Authors: 
    Alif, Muhammad;
    Publisher: Jurusan Aqidah dan Filsafat Islam Fakultas Ushuluddin dan Adab UIN Sultan Maulana Hasanuddin Banten

    artikel ini mencoba mengeksplorasi doktrin atau pemikiran al-Mâturîdiy dan pengaruhnya terhadap paham paham Ahlus-Sunnah wal-Jama’ah. Maturidiyyah merupakan aliran rasionalis yang mewakili Ahlus-Sunnah wal Jama’ah. Meski demikian, rasionalitas mereka tidak menjadikan mereka berlebihan dalam menggunakan akal, sebab wahyu dalam pandangan mereka mempunyai otoritas yang tidak kecil dalam pemikiran-pemikiran teologis mereka. Ada beberapa faktor yang memberikan dampak kepada pengaruh al-Mâturîdiy tidak melebihi luasnya paham Ahlus-Sunnah wal-Jama’ah ketimbang al-Asy'ariy, antara lain adalah faktor geografis, faktor etos moral dalam bermazhab dan faktor politik.

  • Open Access English
    Authors: 
    Mansur, Syafiin;
    Publisher: Jurusan Aqidah dan Filsafat Islam Fakultas Ushuluddin dan Adab UIN Sultan Maulana Hasanuddin Banten

    filsafat qurani merupakan pemikiran mendalam yang dilandasai Al-Qur’an yang menggambarkan manusia, baik secara bentuk atau model kejadian seperti Adam tanpa Bapak dan Ibu, Hawa tanpa Ibu tetapi ada Bapak, Isa ada Ibu tanpa ada Bapak dan Muhammad ada Bapak dan Ibu, sama seperti kita semua yang tercipta ada Bapak dan Ada Ibu melalui pernikahan yang syah. Kemudian manusia disebut dengan sebutan yang indah adalah an-Nas adalah makhluk sosial, al-Insan adalah makhluk bermoral, al-Basyar adalah makhluk biologis, al-Abdu adalah makhluk religious dan Bani Adam adalah makhluk historis.

  • Open Access
    Authors: 
    Haryono, Satrio Dwi;
    Publisher: Jurusan Aqidah dan Filsafat Islam Fakultas Ushuluddin dan Adab UIN Sultan Maulana Hasanuddin Banten

    Sociology is a science that studies human-human relations. Sociology emerged later than other disciplines. Max Weber, a western sociologist who studies the eastern world as the object of his study, is considered to have a lot of ethnocentric content, namely Eurocentric. This has implications for the creation of a reflection of Europe, namely the east, which Weber describes eloquently. Although at first Weber tried to explain the process of change in Western Europe, but oddly enough, he studied the east as the other or the other of Europe. As a methodological tool, the author uses library research. In this study, the author uses Hassan Hanafi's Occidentalism approach to challenge the Eurocentrism narrative offered by Max Weber. The results of this study indicate that Eurocentrism is attributed to Europe which in the course of history will lead to major humanitarian problems that Weber did not calculate such as colonialism and imperialism and requires a full lawsuit against the discourse through Occidentalism.

  • Publication . Article . 2018
    Open Access English
    Authors: 
    Samian Hadisaputra;
    Publisher: Jurusan Aqidah dan Filsafat Islam Fakultas Ushuluddin dan Adab UIN Sultan Maulana Hasanuddin Banten

    Aliran Salaf ini dinisbatkan kepada Imam Ahmad ibn Hanbal sehingga penganut aliran ini dapat juga disebut sebagai simpatisan Hanbali, tetapi penamaan Aliran Salaf ini lebih dekat dengan Ibnu Taimiyah. Kemudian ajaran-ajaran aliran Salaf diteruskan oleh Muhammad Abd al-Wahhab yang telah mempelopori kelahiran Gerakan Wahhabi. Aliran Salaf merupakan aliran dalam Islam yang menisbatkan nama alirannya pada Slaf as-Shalihin (generasi Islam terdahulu). Metode berpikir aliran salaf bersifat literal/tekstual, dan juga menjadi aliran kontekstual sehingga cenderung menjadi mazdhab kolektif atau mazdhab kutifan, terutama dalam bidang keagamaan.

  • Open Access English
    Authors: 
    Fauziyah, Siti;
    Publisher: Jurusan Aqidah dan Filsafat Islam Fakultas Ushuluddin dan Adab UIN Sultan Maulana Hasanuddin Banten

    Fitrah secara istilahi adalah tauhid (Islam) berupa agama yang lurus, baik, dan tidak berubah, dimana Allah telah menganugerakan potensi tauhid ini kepada seluruh manusia sejak lahirnya. Yang membedakan konsep fitrah dengan Nativisme, yaitu peniadaan faktor eksternal (lingkungan) sebagai salah satu faktor yang mempengaruhi perkembangan individu. Sedangkan yang membedakan konsep fitrah dari empirisme adalah pada masalah dasar yang dibawa manusia sejak lahir, dalam Empirisme manusia lahir sebagai tabularasa sedangkan pada konsep fitrah, manusia dilahirkan dengan membawa sejumlah bawaan atau kecenderungan diantaranya adalah potensi tauhid. Adapun yang membedakan konvergensi dengan fitrah adalah pada dasar yang dibawa manusia sejak lahir. Jika dasar atau potensi pada konvergensi adalah kosong dari tauhid maka dalam konsep fitrah manusia dilahirkan dengan membawa potensi tauhid.

  • Open Access English
    Authors: 
    Has, Qois Azizah bin;
    Publisher: Jurusan Aqidah dan Filsafat Islam Fakultas Ushuluddin dan Adab UIN Sultan Maulana Hasanuddin Banten

    Discussions about tawhid have been controversial and debated by previous scholars. That is because some of them express God's Oneness using logic. However, Ibn Taymiyah tried to reform the nationalized tawhid based on the Qur'an and the Sunnah. And unequivocally criticize arguments that are not all with Islamic values. However, the renewal of Ibn Taymiyah's thinking was not immediately accepted by some scholars. Shaikh Taqiyuddin as-Subki, for example, judged ibn Taymiyah's reform discourse to be rigid and out of al-ittiba' and switched to al-ibtida'. Thus this discourse of renewal is an oddity carried out by Ibn Taymiyah. However, although it is considered strange, Ibn Taymiyah's thinking is considered more likely to be exclusive. So the study of religion makes Islam easy to understand by Modern Muslims. Including the concept of tawhid by classifying it into three parts. None other than that modern Muslims can understand tawhid universally and comprehensively. By studying some of Ibn Taymiyah's books and other supporters the author tried to explain the concept of tawhid and the discourse of renewal.

  • Open Access English
    Authors: 
    Oktaviana, Anisa Rosi;
    Publisher: Jurusan Aqidah dan Filsafat Islam Fakultas Ushuluddin dan Adab UIN Sultan Maulana Hasanuddin Banten

    At the beginning of the emergence of hermeneutic studies, its characters used this approach to interpret the Bible. Then the more this science began to develop, finally a thought emerged that the exegetical methods applied to the Bible could also be applied to other books. In other words, other holy books can also be interpreted using the hermeneutic approach. In the postmodernism era, Muslim figures and their thoughts emerged. One of them is Mohammed Arkoun, because he has lived in France for a long time and has been appointed as a lecturer at Sorbonne University, many of his thoughts are oriented to figures, especially western linguistic figures. He tried to interpret the Qur'an using the Hermeneutic method. The research method used is descriptive qualitative research, where the data source is in the form of documents related to this research. The result is Arkoun's phenomenal thinking about the interpretation of "revelation" in the Al-Qur'an. He considers that the Al-Qur'an that we have today is not the original revelation/text, this article will discuss the concepts that underlie Arkoun's thoughts on the interpretation of revelation.

Send a message
How can we help?
We usually respond in a few hours.