
Artikel ini membahas keterlibatan anak-anak dalam Perjamuan Kudus di GKPI dengan menggunakan teori Being as Communion menurut John Zizioulas. Artikel ini dilatarbelakangi oleh pemahaman bahwa Perjamuan Kudus sebagai salah satu sakramen merupakan anugerah bagi semua orang. Namun, GKPI sebagai gereja yang menganut aliran Lutheran menolak untuk mengikutsertakan anak-anak dalam Perjamuan Kudus karena belum melalui katekisasi sidi sebagai syarat mutlak. Dalam memenuhi tujuan penulisan, penulis menggunakan studi literatur melalui pendekatan teologi konstruktif, yang bertujuan untuk meng-konstruksi pemahaman teologis bahwa anak-anak juga bagian dari Communio Sanctorum dan perlu diikut-sertakan dalam Perjamuan Kudus. Melalui teori Being as Communion menurut John Zizioulas, penulis menawarkan pandangan yang relevan bagi GKPI dalam menciptakan Perjamuan Kudus yang terbuka bagi anak-anak sebagai bagian dari Communio Sanctorum. Penulis menyimpulkan bahwa Perjamuan Kudus merupakan anugerah Allah bagi semua orang, yang tidak dapat dibatasi hanya pada pemahaman teologis, tetapi juga harus mencakup hal-hal yang intuitif serta emosional.
| selected citations These citations are derived from selected sources. This is an alternative to the "Influence" indicator, which also reflects the overall/total impact of an article in the research community at large, based on the underlying citation network (diachronically). | 0 | |
| popularity This indicator reflects the "current" impact/attention (the "hype") of an article in the research community at large, based on the underlying citation network. | Average | |
| influence This indicator reflects the overall/total impact of an article in the research community at large, based on the underlying citation network (diachronically). | Average | |
| impulse This indicator reflects the initial momentum of an article directly after its publication, based on the underlying citation network. | Average |
