Advanced search in
Research products
arrow_drop_down
Searching FieldsTerms
Any field
arrow_drop_down
includes
arrow_drop_down
Include:
29,898 Research products, page 1 of 2,990

  • 2013-2022
  • Indonesian
  • USU Institutional Repository

10
arrow_drop_down
Date (most recent)
arrow_drop_down
  • Open Access Indonesian
    Authors: 
    Chairani, N. (Nabila);
    Country: Indonesia

    Pendahuluan: Penatalaksanaan medis terhadap pasien penyakit kardiovaskular setelah kondisi akut teratasi dan status hemodinamik stabil dianjurkan mengikuti program pemulihan melalui program rehabilitasi jantung Fase I. Kepatuhan pasien dalam melaksanakan program rehabilitasi jantung masih tergolong rendah. Diperkirakan sebanyak 24-50% pasien menarik diri dari program rehabilitasi jantung dan hanya 39% pasien yang patuh terhadap latihan aktivitas fisik yang telah direkomendasikan. Salah satu alasan utama pasien tidak melaksanakan program rehabilitasi jantung yaitu rendahnya pengetahuan (hambatan personal). Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara pengetahuan dengan tingkat kepatuhan pasien penyakit kardiovaskular dalam melaksanakan latihan aktivitas fisik rehabilitasi jantung Fase I.Metode: Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif korelasi dengan menggunakan desain cross-sectional. Sampel diambil dengan teknik purposive sampling dengan jumlah sampel 36 responden. Instrumen yang digunakan dalam penelitian ini terdiri dari kuesioner data demografi, kuesioner pengetahuan latihan aktivitas fisik rehabilitasi jantung Fase I, dan daily checklist latihan aktivitas fisik rehabilitasi jantung Fase I. Data dianalisis menggunakan chi square.Hasil: Terdapat hubungan yang signifikan antara pengetahuan dengan tingkat kepatuhan pasien penyakit kardiovaskular dalam melaksanakan latihan aktivitas fisik rehabilitasi jantung Fase I (p= 0,031).Kesimpulan: Terdapat hubungan yang bermakna antara pengetahuan dengan tingkat kepatuhan pasien penyakit kardiovaskular dalam melaksanakan latihan aktivitas fisik rehabilitasi jantung Fase I. Perawat di ruangan hendaknya memperhatikan pengetahuan pasien dengan memberikan edukasi dalam melaksanakan latihan aktivitas fisik rehabilitasi jantung Fase I.

  • Open Access Indonesian
    Authors: 
    Sonang, Muhammad Jeli;
    Country: Indonesia

    A research on the implementation of adjusting the statutes of Educational Foundation, based on PP (Government Regulation) No. 2/2013, is aimed to find out the adjustment of the statutes of the Foundation that operates in Basic Education activity, based on PP No. 2/2013, and its impact on foundations which have not yet made it, on the responsibility of the organs of foundation that operates in Basic Education activity which has not yet adjusted it statutes and on the obstacles in the process of adjustment of the statutes, based on PP No. 2/2013. The implementation of this regulation can provide legal certainty for the establishment and legal status of higher education foundation which also become a controversy for the foundation in operating its business so that it does not deviate from its goal and establishment. The research used judicial normative method. The data were gathered by conducting library research and unstructured interviews, and secondary data were obtained from primary, secondary, and tertiary legal materials. The gathered data were analyzed qualitatively and presented descriptively. The conclusion of the research is that in the theory of legal entity, a foundation is called legal entity when it has obtained the validity of the Minister as it is confirmed in Article 71 of Law on Foundation, that a foundation that does not adjust its statutes in time will not be allowed to use the word, ?Foundation? in front of its name. In reality, there are still many foundations which have not made adjustment, but sanction cannot be imposed on them since the time is not ended. Legal consequence of a foundation which has not yet made the adjustment is that it is not allowed to use the word. ?Foundation? in front of its name, its asset will be liquidated, and all its assets have to be handed over as it is stipulated in Article 68 of Law on Foundation. Based on the theory of responsibility, a person has the liability for what he has done. In this case, a foundation which does not make adjustment of its statutes is considered ignoring implementing law or regulations which becomes the legal ground for a country. Therefore, the foundation has done illegal act which to be counted for legally. Penelitian Mengenai Pelaksanaan Penyesuaian Anggaran Dasar Yayasan Pendidikan berdasarkan Peraturan Pemerintah Nomor 2 Tahun 2013, bertujuan untuk mengetahui bagaimana Bagaimana penyesuaian anggaran dasar Yayasan yang menjalankan kegiatan pendidikan Dasar berdasarkan PP No 2 Tahun 2013, serta akibat yang ditimbulkan bagi yayasan yang belum menyesuaikan, Bagaimana Tanggung Jawab Organ-Organ Yayasan bagi yayasan yang menjalankan kegiatan pendidikan dasar yang belum menyesuaikan anggaran dasar berdasarkan PP No 2 Tahun 2013 Apa saja kendala yang dihadapi Yayasan yang menjalankan kegiatan pendidikan dasar dalam proses penyesuaian anggaran dasar berdasarkan PP No 2 Tahun 2013. Pelaksanaan Peraturan tersebut diharapkan dapat memberikan kepastianhukum terhadap pendirian dan status hukum yayasan pendidikan tinggi, dan jugamenjadi kontro bagi yayasan dalam menjalankan roda usahanya, sehingga tidak menyimpang dari maksud dan tujuan pendiriannya. Berkaitan dengan penelitian yang diajukan dalam hal tersebut, metode pendekatan yang digunakan dalam hal tersebut adalah yuridis normatif. Penelitian kepustakaan (library research) dilakukan dengan cara, menghimpun data dengan melakukan penelaahan bahan kepustakaan atau data sekunder yang meliputi bahan hukum primer, bahan hukum sekunder dan bahan hukum tertier. Digunakan teknik komunikasi langsung dengan berupapedoman wawancara tak berstruktur (Unstructured interview). Analisa data dilakukan secara kualitatif dan disajikan secara deskriptif. Berdasarkan penelitian yang dilakukan maka diperoleh kesimpulan bahwa, pada teori badan hukum, yayasan dikatakan sebagai badan hukum apabila telah mendapatkan pengesahan dari Menteri. Hal ini juga ditegaskan dalam pasal 71 Undang-Undang Yayasan, bahwa yayasan yang tidak melakukan penyesuaian anggaran dasar hingga batas waktu yang ditentukan maka tidak dapat menggunakan kata ?Yayasan? di depan namanya. Faktanya masih banyak yayasan yang belum melakukan penyesuaian, namun sanksi belum dapat diterapkan karena batas waktu belum berakhir. Sedangkan akibat hukum bagi yayasan yang belum menyesuaikan selain tidak boleh menggunakan kata ?Yayasan? di depan namanya juga yayasan tersebut harus dilikuidasi kekayaannya serta menyerahkan hasil likuidasi sesuai dengan pasal 68 Undang-Undang Yayasan, serta berdasarkan teori Tanggung Jawab mengatakan bahwa seseorang bertanggung jawab secara hukum atas suatu perbuatan tertentu. Dalam hal ini yayasan yang tidak melakukan penyesuaian anggaran dasar dianggap lalai dalam melaksanakan undang-undang atau peraturan yang menjadi landasan hukum suatu negara, maka yayasan tersebut dapat dikatakan telah melakukan Perbuatan Melawan Hukum, yang harus dipertanggungjawabkan secara hukum.

  • Open Access Indonesian
    Authors: 
    Harahap, Rino Epriadi;
    Country: Indonesia

    120802002 Isolasi nanoserat selulosa dari tandan kosong sawit (Elaeis guinensis Jack) dengan menggunakan TEMPO telah dilakukan. Tandan kosong sawit didelignifikasi dengan HNO3 3,5% dan NaNO2, kemudian diendapkan dengan NaOH 17,5% serta proses pemutihan dengan H2O2 10%. Nanoserat selulosa diperoleh melalui media oksidasi TEMPO, Homogenisasi dan Ultrasonikasi. Hasil analisa ukuran partikel diukur dengan Transmission Electron Microscopy (TEM) menunjukkan bahwa nanoserat selulosa yang diperoleh memiliki diameter 11-69 nm. Hasil analisa ketahanan termal diukur dengan Thermogravimetric Analysis (TGA) menunjukkan bahwa nanoserat selulosa terdekomposisi pada suhu 240?C. Hasil Analisa gugus fungsi diukur dengan Fourier Transform Infra-Red (FT-IR) menunjukkan adanya serapan gugus C-H pada bilangan gelombang 2900 cm-1. Pada bilangan gelombang 3348 cm-1 menunjukkan adanya gugus O-H dan pada bilangan gelombang 1064 cm-1 menunjukkan adanya serapan gugus C-O-C yang menunjukkan bahwa adanya ikatan glikosida dalam sturuktur nanoserat selulosa. Hasil analisa TEM, TGA dan FT-IR menunjukkan bahwa media oksidasi TEMPO dapat menghasilkan serat selulosa berukuran nano dari tandan kosong sawit. Isolasi nanoserat selulosa dari tandan kosong sawit (Elaeis guinensis Jack) dengan menggunakan TEMPO telah dilakukan. Tandan kosong sawit didelignifikasi dengan HNO3 3,5% dan NaNO2, kemudian diendapkan dengan NaOH 17,5% serta proses pemutihan dengan H2O2 10%. Nanoserat selulosa diperoleh melalui media oksidasi TEMPO, Homogenisasi dan Ultrasonikasi. Hasil analisa ukuran partikel diukur dengan Transmission Electron Microscopy (TEM) menunjukkan bahwa nanoserat selulosa yang diperoleh memiliki diameter 11-69 nm. Hasil analisa ketahanan termal diukur dengan Thermogravimetric Analysis (TGA) menunjukkan bahwa nanoserat selulosa terdekomposisi pada suhu 240?C. Hasil Analisa gugus fungsi diukur dengan Fourier Transform Infra-Red (FT-IR) menunjukkan adanya serapan gugus C-H pada bilangan gelombang 2900 cm-1. Pada bilangan gelombang 3348 cm-1 menunjukkan adanya gugus O-H dan pada bilangan gelombang 1064 cm-1 menunjukkan adanya serapan gugus C-O-C yang menunjukkan bahwa adanya ikatan glikosida dalam sturuktur nanoserat selulosa. Hasil analisa TEM, TGA dan FT-IR menunjukkan bahwa media oksidasi TEMPO dapat menghasilkan serat selulosa berukuran nano dari tandan kosong sawit.

  • Open Access Indonesian
    Authors: 
    Sihombing, Susilawati;
    Country: Indonesia

    131000150 Kebersihan perorangan yang buruk dan pemakaian Alat Pelindung Diri yang tidak memenuhi syarat dapat memberikan pengaruh negatif bagi kesehatan, salah satu pekerja yang berisiko terkena gangguan kulit adalah petani. Petani melakukan bervariasi pekerjaan yang menyebabkan mereka terpapar bahan kimia, biologi, dan bahan berbahaya lainnya. Pemakaian pakaian kerja, sarung tangan, dan penutup kepala yang berulang-ulang dan jarang dibersihkan akan mempermudah petani terkena keluhan penyakit kulit. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui personal hygiene, pemakaian Alat Pelindung Diri (APD) dan keluhan penyakit kulit pada Petani di Desa Gundaling II Kecamatan Berastagi tahun 2017. Jenis penelitian ini adalah penelitian yang bersifat deskriptif dengan jumlah sampel sebanyak 46 responden yang dipilih dengan metode simple random sampling. Metode yang digunakan adalah wawancara dengan memakai kuesioner dan observasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa distribusi Personal hygiene pada petani sebanyak 26 petani (56,5%) adalah buruk, mulai dari kebersihan tangan, kaki dan kuku sebanyak 28 petani (60,9%) tergolong buruk, kebersihan gigi dan mulut sebanyak 25 petani (54,3%) tergolong buruk dan kebersihan kulit sebanyak 23 petani (50,0%), distribusi berdasarkan pemakaian Alat Pelindung Diri (APD) pada petani adalah sebanyak 45 petani (97,8%) memiliki pemakaian alat pelindung diri dengan kategori kurang, dan distribusi berdasarkan keluhan penyakit kulit pada petani adalah sebanyak 27 petani (58,7%) mengalami keluhan penyakit kulit, keluhan penyakit kulit yang dirasakan petani yaitu, gatal-gatal sebanyak 14 orang (51,8), bercak kemerahan sebanyak 7 orang (25,9%), bentol-bentol sebanyak 4 orang(14,8%) dan kulit yang mengelupas seperti sisik 2 orang (7,4%). Diharapkan bagi petani untuk tetap dan semakin memperhatikan pentingnya personal hygiene dan pemakaian Alat Pelindung Diri (APD) saat bekerja sehingga tidak terkena penyakit kulit yang berhubungan dengan pertanian. Bagi pemerintahan Daerah melalui Dinas Kesehatan Kabupaten Karo, hendaknya melakukan usaha-usaha peningkatan penyuluhan khususnya tentang kesehatan perorangan dan pentingnya penggunaan alat pelindung diri secara lengkap untuk melindungi petani dari penyakit-penyakit yang berhubungan dengan pertanian. Poor personal hygiene and the use of inadequate Personal Protective Equipment can have a negative effect on health, one of the people at risk for skin disorders is the farmer. Farmers perform varying jobs that cause them to be exposed to chemicals, biologicals, and other hazardous materials. The use of repetitive work clothes, gloves, and headgear and rarely cleaned will make it easier for farmers to get complaints of skin disorders. The purpose of this research is to know the personal hygiene, the use of Personal Protective Equipment and complaints of skin disease at Farmers in Desa Gundaling II Kecamatan Berastagi in 2017. This research type is descriptive research with the number of samples of 46 respondents selected by simple random sampling method. The method used is interview by using questioner and observation. The results showed that the distribution of personal hygiene in farmers as many as 26 farmers (56.5%) was bad, ranging from hand hygiene, foot and nails as many as 28 farmers (60.9%) were poor, dental and mouth hygiene of 25 farmers (54 , 3%) is classified as bad and skin hygiene as much as 23 farmers (50.0%), distribution based on the use of Personal Protective Equipment (PPE) on farmers is as much as 45 farmers (97.8%) have the use of personal protective equipment with less category, and The distribution based on complaints of skin disorder on farmers were as many as 27 farmers (58.7%) experienced complaints of skin disorders, complaints of skin disorders perceived by farmers, the itching as many as 14 people (51.8), reddish patches of 7 people (25, 9%), bumps of 4 people (14.8%) and peeling skin such as scales 2 people (7.4%). It is expected that farmers to stay and pay more attention to the importance of personal hygiene and the use of Personal Protective Equipment (PPE) when working so as not to get skin diseases associated with agriculture. For local government through Karo District Health Office, it should make efforts to increase counseling especially about individual health and the importance of using complete personal protective equipment to protect farmers from agriculture-related diseases.

  • Open Access Indonesian
    Authors: 
    Ridho, Almizan;
    Country: Indonesia

    130801028 Jika suatu bintang masif dengan massa M berbentuk bola, maka kita dapat menghitung radius bola yang mengungkung massa M tersebut. Kemudian untuk mengubah bintang masif tersebut menjadi lubang hitam kita harus mengubah radius ini menjadi sedemikian rupa. Radius yang menjadikan suatu bintang masif menjadi lubang hitam inilah yang kemudian dinamakan Radius Schwarzschild. Dengan demikian, kita juga dapat mendefinisikan lubang hitam sebagai suatu bintang masif bermassa M yang seluruh massa bintang masif tersebut berada di dalam radius Schwarzschild-nya. Namun karena sulitnya melakukan perhitungan terhadap suatu objek yang amat besar dan amat masif di luar angkasa, maka diperlukan alat bantu khusus. Komputasi fisika dapat memecahkan kebuntuan perhitungan ini dengan beragam visualisasi yang dapat diamati untuk diteliti. Salah satu program bahasa tingkat tinggi dalam penelitian tentang fisika yang baik dalam perhitungan dan visualisasinya adalah Wolfram Mathematica. Maka perhitungan dan visualisasi lubang hitam Schwarzschild akan dikomputasikan menggunakan program ini. If the massive spherical star with mass M, then we can calculate the spherical radius that confines the mass M. In order to change massive starinto a black hole we have to turn this radius into such a way. The radius that makes an object into a black hole is then called Schwarzschild Radius. Thus, we can also define a black hole as an object of mass M that the entire mass of the massive star is within its Schwarzschild Radius. But it’s hard to do the calculation of a very large and very massive objects at the universe, then needed a special tool. Physical computation can break the deadlock of this calculation with a variety of visualizations that can be observed for examination. One of the best high-level language programs in research on physics in calculation and visualization is Wolfram Mathematica. Then the visualization of Schwarzschild's black hole will be used in this program.

  • Open Access Indonesian
    Authors: 
    Samosir, Rinike;
    Country: Indonesia

    131101079 Mioma uteri (tumor jinak uterus) yang paling sering ditemukan merupakan tumor jinak berbatas tegas dan neoplasma jinak ini berasal dari jaringan otot polos dan jaringan ikat yang menumpang. Mioma uteri dikenal juga dengan sebutan fibromioma, fibroid ataupun leiomioma. Insidensi mioma uteri sekitar 20% - 30% dari seluruh wanita di dunia. Di Indonesia, mioma uteri ditemukan 2,39% - 11,7% pada semua penderita ginekologi yang dirawat. Ada beberapa faktor risiko yang mempengaruhi kejadian mioma uteri seperti umur, usia menarche, paritas, IMT (Indeks Massa Tubuh), riwayat keluarga, pola menstruasi, dan penggunaan kontrasepsi. Tujuan dari penelitian ini untuk menganalisa faktor-faktor yang mempengaruhi kejadian mioma uteri pada wanita usia subur yang pernah dirawat di RS dr. Pirngadi Medan dan menganalisa faktor yang mempengaruhi, dengan metode deskriptif analitik. Populasi dalam penelitian ini sebanyak 147 orang dan sampel sebanyak 34 orang diambil dengan teknik porposive sampling. Data dianalisa dengan uji analisa univariat dan multivariat dengan uji analisa regresi linear ganda. Hasil penelitian menunjukkan ada 3 faktor yang paling berpengaruh pada wanita usia subur penderita mioma uteri yang pernah dirawat di RS dr. Pirngadi Medan yaitu umur dengan nilai p = 0,006 dan mayoritas responden pada kelompok umur 40-44 tahun (55,9%), paritas dengan nilai p = 0,009 dan mayoritas responden tidak memiliki anak atau paritas = 0 (52,9%) dan riwayat keluarga dengan nilai p = 0,019 dan mayoritas responden memiliki riwayat keluarga (52,9%). Penelitian ini diharapkan dapat menjadi sumber informasi yang relevan bagi pelayanan keperawatan dan pendidikan keperawatan dan untuk penelitian selanjutnya diharapkan dapat menambah jumlah responden sehingga hasil penelitian lebih akurat.

  • Open Access Indonesian
    Authors: 
    Hutapea, Cynthya Dorothy;
    Country: Indonesia

    130801045 Telah dirancang sebuah alat sebagai seismometer horizontal menggunakan GY-521 dan Arduino UNO ATMEGA 328P. Alat ini terdiri dari GY-521 modul MPU-6050 sebagai sensor vibrasi dan arduino UNO sebagai pengendali sistem. Perangkat lunak yang digunakan sebagai pengendali sistem adalah Arduino IDE. Cara kerja alat tersebut cukup sederhana yaitu accelerometer MPU-6050 mengukur amplitudo dan frekuensi dari kecepatan suatu getaran dan kemudian datanya akan dikirim ke arduino. Arduino UNO akan memproses data yang dikirim sensor, setelah itu data dari arduino ini akan dikirim dan tertampil di interface PC. Dari hasil pengukuran dapat diketahui bahwa sensor dapat mendeteksi getaran dan frekuensi yang rendah. Has designed device as a seismometer horizontal using GY-521 and Arduino UNO R3 ATMEGA 328P. This instrument consists of GY-521 MPU-6050 module as a vibration sensor and Arduino UNO system. Software used as controller system is Arduino IDE. Ways of working instrument was simple that is MPU-6050 accelerometer measuring amplitudes and frequency of the velocity of a vibration and then the data will be sent to arduino. Arduino UNO would process the data sent sensors , after that data from arduino this will be sent and displayed in interface PC. Of the measurement result it can be seen that sensors can be detect vibration and frequency of low.

  • Open Access Indonesian
    Authors: 
    Lestari, Ika Ayu;
    Country: Indonesia

    131401062 Dalam dunia kesehatan pengolahan citra cukup memberikan peranan penting, seperti mengolah citra hasil dokumentasi kolposkopi kanker serviks. Salah satu pengolahan citra yaitu deteksi tepi (Edge detection). Deteksi tepi (Edge detection) adalah operasi yang dijalankan untuk mendeteksi garis tepi (edges) yang membatasi dua wilayah citra homogen yang memiliki tingkat kecerahan yang berbeda. Deteksi tepi memiliki beberapa operator seperti operator Canny dan Isotropik. Deteksi tepi baik digunakan untuk mendeteksi hasil citra kolposkopi yang merupakan dokumentasi serviks dengan format file (*.png). Citra Kolposkopi akan di transformasi dengan transformasi nth root power untuk mendapatkan hasil citra deteksi yang lebih baik, kemudian dilakukan deteksi tepi dengan operator Canny dan Isotropik. Parameter keberhasilan sistem adalah perbandingan hasil diagnosa sistem dengan hasil diagnosa dokter. Diagnosa dokter terhadap 15 gambar menghasilkan nilai persentase akurasi 80%. Parameter untuk membandingkan kedua operator adalah running time, MSE dan PSNR. Rata-rata nilai running time Canny 0.3619206 ms sedangkan nilai running time Isotropik 1.49136262 ms. Dari perbandingan itu, operator Canny yang paling baik karna menghasilkan tepian yang lebih jelas dengan waktu yang cepat. Namun untuk nilai MSE yang terendah dan PSNR tertinggi dilakukan oleh operator Isotropik dengan nilai rata-rata MSE yaitu 11579,62 dan Nilai rata-rata PSNR yaitu 0,7556 dB. Image processing provides an important role in the world of health, for example to process image documentation of cervical cancer colposcopy results. One of the image processing itself is edge detection. Edge detection is an operation performed to detect borders that constrain two homogeneous imagery regions that have different brightness levels. Edge detection has several operators such as Canny and Isotropic operators. The edge detection is good to use for detecting image documentation of cervical cancer colposcopy with the file format (*.png). Colposcopy image will be transformed by nth root power transformation to get better detection result, then by Canny and Isotropic operator. The success parameter of it is the comparison between the diagnostic result of the system with the doctor's diagnosis. Doctor's diagnosis of 15 images yields an 80% accuracy percentage value. Parameters to compare both operators are running time, MSE and PSNR. Average running time value Canny is 0.3619206 ms while Isotropic get 1.49136262 ms. From that comparison, Canny operator is the best in this case because Canny produces a clearer edge with a fast time instead. However, for the lowest MSE value and the highest PSNR conducted by Isotropic operator with the average value of MSE is 11579.62 and the mean value of PSNR is 0.7556 dB.

  • Open Access Indonesian
    Authors: 
    Marbun, Nomi;
    Country: Indonesia

    131101149 Ketidakberhasilan remaja dalam menangani konfliknya disebabkan oleh tidak berfungsinya figur orangtua yang salah satunya adalah ayah sebagai pendamping remaja dalam setiap tahap peralihannya. Masalah yang kemudian muncul di masyarakat adalah pandangan bahwa tugas ayah hanya mencari nafkah dan peran lainnya terlupakan karena pada hakikatnya yang lebih di arahkan pada peran pemenuhan kebutuhan ekonomi keluarga yang kemudian dapat menyebabkan ketidakoptimalan peran ayah pada remaja. Metode penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah deskriptif korelasional. Berdasarkan hasil penelitian diperoleh bahwa peran ayah pada remaja di Kelurahan Padang Bulan Kecamatan Medan Baru dalam kategori baik (67,8%) dan remaja di Kelurahan Padang Bulan Kecamatan Medan Baru menangani konflik dengan kategori cukup (60,9%). Berdasarkan analisis data yang dilakukan dengan uji korelasi Spearman Rank diperoleh koefisien korelasi peran ayah pada remaja dengan penanganan konflik remaja 0,320 dengan taraf signifikansi dapat diterima dimana p=0,003. Hal tersebut menunjukkan bahwa ada hubungan yang signifikan antara peran ayah dengan penanganan konflik remaja dengan interpretasi hubungan lemah. Faktor-faktor yang mempengaruhi penanganan konflik remaja tidak mutlak hanya dari tingkat peran ayah saja, tetapi banyak faktor lain yang dapat mempengaruhi baik buruknya penanganan konflik. Peneliti menyarankan kepada ayah untuk lebih berperan serta mendampingi remaja dalam tahap perkembangan usia remaja. Adolescents? failure to handle their conflicts is caused by parents? dysfunction, especially fathers as the companions of adolescents in their transition. The problem which appears in society is that a father?s task is to earn a living while his other roles are neglected since he is focused on solving his family?s economic need so that his role in solving his children?s problem is not optimal. The research used descriptive correlation method. The result of the research showed that 67.8%) of fathers had good role in their children?s problems, and 60.9% of adolescents were in moderate category in handling their conflicts. The result of Spearman Rank correlation test showed that correlation coefficient between fathers role and adolescent in handling adolescence conflicts was 0.320 at the significance level of p = 0.003 which indicated that there was significant correlation of fathers? role with the handling of adolescence conflicts with weak interpretation. The factor of handling adolescence conflicts is not only by fathers? role but also by other factors. It is recommended that fathers have more roles and accompany their children during their transition period.

  • Open Access Indonesian
    Authors: 
    Handayani, Anisah Rizki;
    Country: Indonesia

    130801004 Telah dilakukan pembuatan magnet permanen Barium Heksaferit yang ditambahkan dengan FeMndengan variasi komposisi (0,5, 1, 3, 5, dan 10 %wt). Proses preparasi sampel dimulai dari penggilingan serbuk BaFe12O19 dengan penambahan FeMn dilakukan dengan cara wet milling menggunakan HEM dengan media toluen selama 30 menit. Sampel kemudian dikeringkan. Sampel di campur dengan seluna 3 wt% dan dicetak dengan gaya 10 ton selama 3 menit sehingga membentuk pelet dengan diameter 2 cm. Sampel yang telah dicetak kemudian di sintering dengan menggunakan vacuum furnace pada suhu 1100°C selama 2 jam dan dikarakterisasi meliputi sifat fisis ( true density), struktur kristal dengan XRD ( X-Ray Diffraction ), mikrostruktur dengan menggunakan PSA ( Paricle Size Analyzer ) dan SEM-EDS ( Scanning Electron Microscope – Energy Dispersif Spectroscope ) dan sifat magnetik menggunakan VSM ( Vibrating Sample Magnetometer ). Dari hasil pengukuran true density dan PSA menunjukkan bahwa nilai true density dan ukuran partikel cenderung menurun dengan penambahan FeMn yang semakin meningkat. Hasil analisis XRD menunjukkan terdapat fase BaFe12O19 dan fasa Fe2O3 pada sampel yang ditambahkan FeMn dan yang tidak ditambahakn. Terbentuknya fase Fe2O3 berkontribusi pada pengurangan sifat magnetik BaFe12O19 yang di doping dengan FeMn. Dari kurva histerisis dengan penambahan 1, 5, dan 10 wt% FeMn dapat menurunkan nilai remanensi dan saturasi dari BaFe12O19 dan meningkatkan nilai koersivitas BaFe12O19. Kondisi optimum terdapat pada penambahan 5 wt% FeMn dapat diketahui nilai densitas 5,034 g/cm3, nilai energi produksi (BHmax) 0,4858 MGOe, saturasi magnetik (Ms ) 44,72 emu/g, remanensi (Mr) 25,43 emu/g, koersivitas (Hc) 1,76 KOe. Pengaruh dari sintering pada sifat magnet membuat nilai koersivitas dari sampel berkurang sehingga sifat magnetnya menjadi lebih soft magnetik diduga adanya perubahan fasa pada sampel yang telah disinter. Penambahan FeMn cenderung menurunkan nilai densitas,dan sifat magnet dari BaFe12O19. The preparation of permanent barium hexaferrite magnet has been done by adding FeMn with varied compositions of 0,5, 1, 3, 5, and 10 % wt. The sample of preparation process was begin with milling BaFe12O19powder and adding FeMn which was done the wet milling way by using HEM with toluene media for 30 minutes. Then the sample was dried. After drying, the sample was mixed with seluna 3 wt% and pressed with hydraulic press with 10 ton of force for 3 minutes to produce pellet with diameter of 2 cm. The pellet then sintered by using vacuum furnace at a temperature of 1100°C for 2 hours and was characterized including physical property (true density), crystal structure with XRD ( X – Ray Diffraction ), microstructure using PSA ( Particle Size Analyzer ) and SEM-EDS ( Energy Dispersif Spectroscopy ), and magnetic property using VSM ( Vibrating Sample Magnetometer ). From the result of true density and PSA measurement, it was shown that the value of true density and the size of particle tent to decrease by the addition of FeMn which keep increas. The result of XRD analysis showed there were BaFe12O19 phase and Fe2O3 phase on the sample added by FeMn. The formation of Fe2O3 contributes to the reduction of magnetic properties of BaFe12O19which is doped with FeMn. From the hysteresis curve with 1, 5, and 10 wt% addition of FeMndecreased the value of remanence and saturation of BaFe12O19also increased the value of coercivity of BaFe12O19 . The optimum condition was found in the addition of 5 wt% FeMn with true density value 5.034 g/cm3, the value of production of energy (BHmax) 0.4858 MGOe, magnetic of saturation (Ms) 44.72 emu/g, remanensi (Mr.) 25.43 emu/g, coercivity (Hc) 1.76 KOe. The effect of sintering on the properties of magnets makes the value of coercivity from the sample is reduced so that the magnetic properties of soft magnetic becomes even suspected the existence of phase change in the sample which have been sintered. The addition of FeMn tendt to lower the value of the density andmagnetic properties of BaFe12O19.

Advanced search in
Research products
arrow_drop_down
Searching FieldsTerms
Any field
arrow_drop_down
includes
arrow_drop_down
Include:
29,898 Research products, page 1 of 2,990
  • Open Access Indonesian
    Authors: 
    Chairani, N. (Nabila);
    Country: Indonesia

    Pendahuluan: Penatalaksanaan medis terhadap pasien penyakit kardiovaskular setelah kondisi akut teratasi dan status hemodinamik stabil dianjurkan mengikuti program pemulihan melalui program rehabilitasi jantung Fase I. Kepatuhan pasien dalam melaksanakan program rehabilitasi jantung masih tergolong rendah. Diperkirakan sebanyak 24-50% pasien menarik diri dari program rehabilitasi jantung dan hanya 39% pasien yang patuh terhadap latihan aktivitas fisik yang telah direkomendasikan. Salah satu alasan utama pasien tidak melaksanakan program rehabilitasi jantung yaitu rendahnya pengetahuan (hambatan personal). Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara pengetahuan dengan tingkat kepatuhan pasien penyakit kardiovaskular dalam melaksanakan latihan aktivitas fisik rehabilitasi jantung Fase I.Metode: Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif korelasi dengan menggunakan desain cross-sectional. Sampel diambil dengan teknik purposive sampling dengan jumlah sampel 36 responden. Instrumen yang digunakan dalam penelitian ini terdiri dari kuesioner data demografi, kuesioner pengetahuan latihan aktivitas fisik rehabilitasi jantung Fase I, dan daily checklist latihan aktivitas fisik rehabilitasi jantung Fase I. Data dianalisis menggunakan chi square.Hasil: Terdapat hubungan yang signifikan antara pengetahuan dengan tingkat kepatuhan pasien penyakit kardiovaskular dalam melaksanakan latihan aktivitas fisik rehabilitasi jantung Fase I (p= 0,031).Kesimpulan: Terdapat hubungan yang bermakna antara pengetahuan dengan tingkat kepatuhan pasien penyakit kardiovaskular dalam melaksanakan latihan aktivitas fisik rehabilitasi jantung Fase I. Perawat di ruangan hendaknya memperhatikan pengetahuan pasien dengan memberikan edukasi dalam melaksanakan latihan aktivitas fisik rehabilitasi jantung Fase I.

  • Open Access Indonesian
    Authors: 
    Sonang, Muhammad Jeli;
    Country: Indonesia

    A research on the implementation of adjusting the statutes of Educational Foundation, based on PP (Government Regulation) No. 2/2013, is aimed to find out the adjustment of the statutes of the Foundation that operates in Basic Education activity, based on PP No. 2/2013, and its impact on foundations which have not yet made it, on the responsibility of the organs of foundation that operates in Basic Education activity which has not yet adjusted it statutes and on the obstacles in the process of adjustment of the statutes, based on PP No. 2/2013. The implementation of this regulation can provide legal certainty for the establishment and legal status of higher education foundation which also become a controversy for the foundation in operating its business so that it does not deviate from its goal and establishment. The research used judicial normative method. The data were gathered by conducting library research and unstructured interviews, and secondary data were obtained from primary, secondary, and tertiary legal materials. The gathered data were analyzed qualitatively and presented descriptively. The conclusion of the research is that in the theory of legal entity, a foundation is called legal entity when it has obtained the validity of the Minister as it is confirmed in Article 71 of Law on Foundation, that a foundation that does not adjust its statutes in time will not be allowed to use the word, ?Foundation? in front of its name. In reality, there are still many foundations which have not made adjustment, but sanction cannot be imposed on them since the time is not ended. Legal consequence of a foundation which has not yet made the adjustment is that it is not allowed to use the word. ?Foundation? in front of its name, its asset will be liquidated, and all its assets have to be handed over as it is stipulated in Article 68 of Law on Foundation. Based on the theory of responsibility, a person has the liability for what he has done. In this case, a foundation which does not make adjustment of its statutes is considered ignoring implementing law or regulations which becomes the legal ground for a country. Therefore, the foundation has done illegal act which to be counted for legally. Penelitian Mengenai Pelaksanaan Penyesuaian Anggaran Dasar Yayasan Pendidikan berdasarkan Peraturan Pemerintah Nomor 2 Tahun 2013, bertujuan untuk mengetahui bagaimana Bagaimana penyesuaian anggaran dasar Yayasan yang menjalankan kegiatan pendidikan Dasar berdasarkan PP No 2 Tahun 2013, serta akibat yang ditimbulkan bagi yayasan yang belum menyesuaikan, Bagaimana Tanggung Jawab Organ-Organ Yayasan bagi yayasan yang menjalankan kegiatan pendidikan dasar yang belum menyesuaikan anggaran dasar berdasarkan PP No 2 Tahun 2013 Apa saja kendala yang dihadapi Yayasan yang menjalankan kegiatan pendidikan dasar dalam proses penyesuaian anggaran dasar berdasarkan PP No 2 Tahun 2013. Pelaksanaan Peraturan tersebut diharapkan dapat memberikan kepastianhukum terhadap pendirian dan status hukum yayasan pendidikan tinggi, dan jugamenjadi kontro bagi yayasan dalam menjalankan roda usahanya, sehingga tidak menyimpang dari maksud dan tujuan pendiriannya. Berkaitan dengan penelitian yang diajukan dalam hal tersebut, metode pendekatan yang digunakan dalam hal tersebut adalah yuridis normatif. Penelitian kepustakaan (library research) dilakukan dengan cara, menghimpun data dengan melakukan penelaahan bahan kepustakaan atau data sekunder yang meliputi bahan hukum primer, bahan hukum sekunder dan bahan hukum tertier. Digunakan teknik komunikasi langsung dengan berupapedoman wawancara tak berstruktur (Unstructured interview). Analisa data dilakukan secara kualitatif dan disajikan secara deskriptif. Berdasarkan penelitian yang dilakukan maka diperoleh kesimpulan bahwa, pada teori badan hukum, yayasan dikatakan sebagai badan hukum apabila telah mendapatkan pengesahan dari Menteri. Hal ini juga ditegaskan dalam pasal 71 Undang-Undang Yayasan, bahwa yayasan yang tidak melakukan penyesuaian anggaran dasar hingga batas waktu yang ditentukan maka tidak dapat menggunakan kata ?Yayasan? di depan namanya. Faktanya masih banyak yayasan yang belum melakukan penyesuaian, namun sanksi belum dapat diterapkan karena batas waktu belum berakhir. Sedangkan akibat hukum bagi yayasan yang belum menyesuaikan selain tidak boleh menggunakan kata ?Yayasan? di depan namanya juga yayasan tersebut harus dilikuidasi kekayaannya serta menyerahkan hasil likuidasi sesuai dengan pasal 68 Undang-Undang Yayasan, serta berdasarkan teori Tanggung Jawab mengatakan bahwa seseorang bertanggung jawab secara hukum atas suatu perbuatan tertentu. Dalam hal ini yayasan yang tidak melakukan penyesuaian anggaran dasar dianggap lalai dalam melaksanakan undang-undang atau peraturan yang menjadi landasan hukum suatu negara, maka yayasan tersebut dapat dikatakan telah melakukan Perbuatan Melawan Hukum, yang harus dipertanggungjawabkan secara hukum.

  • Open Access Indonesian
    Authors: 
    Harahap, Rino Epriadi;
    Country: Indonesia

    120802002 Isolasi nanoserat selulosa dari tandan kosong sawit (Elaeis guinensis Jack) dengan menggunakan TEMPO telah dilakukan. Tandan kosong sawit didelignifikasi dengan HNO3 3,5% dan NaNO2, kemudian diendapkan dengan NaOH 17,5% serta proses pemutihan dengan H2O2 10%. Nanoserat selulosa diperoleh melalui media oksidasi TEMPO, Homogenisasi dan Ultrasonikasi. Hasil analisa ukuran partikel diukur dengan Transmission Electron Microscopy (TEM) menunjukkan bahwa nanoserat selulosa yang diperoleh memiliki diameter 11-69 nm. Hasil analisa ketahanan termal diukur dengan Thermogravimetric Analysis (TGA) menunjukkan bahwa nanoserat selulosa terdekomposisi pada suhu 240?C. Hasil Analisa gugus fungsi diukur dengan Fourier Transform Infra-Red (FT-IR) menunjukkan adanya serapan gugus C-H pada bilangan gelombang 2900 cm-1. Pada bilangan gelombang 3348 cm-1 menunjukkan adanya gugus O-H dan pada bilangan gelombang 1064 cm-1 menunjukkan adanya serapan gugus C-O-C yang menunjukkan bahwa adanya ikatan glikosida dalam sturuktur nanoserat selulosa. Hasil analisa TEM, TGA dan FT-IR menunjukkan bahwa media oksidasi TEMPO dapat menghasilkan serat selulosa berukuran nano dari tandan kosong sawit. Isolasi nanoserat selulosa dari tandan kosong sawit (Elaeis guinensis Jack) dengan menggunakan TEMPO telah dilakukan. Tandan kosong sawit didelignifikasi dengan HNO3 3,5% dan NaNO2, kemudian diendapkan dengan NaOH 17,5% serta proses pemutihan dengan H2O2 10%. Nanoserat selulosa diperoleh melalui media oksidasi TEMPO, Homogenisasi dan Ultrasonikasi. Hasil analisa ukuran partikel diukur dengan Transmission Electron Microscopy (TEM) menunjukkan bahwa nanoserat selulosa yang diperoleh memiliki diameter 11-69 nm. Hasil analisa ketahanan termal diukur dengan Thermogravimetric Analysis (TGA) menunjukkan bahwa nanoserat selulosa terdekomposisi pada suhu 240?C. Hasil Analisa gugus fungsi diukur dengan Fourier Transform Infra-Red (FT-IR) menunjukkan adanya serapan gugus C-H pada bilangan gelombang 2900 cm-1. Pada bilangan gelombang 3348 cm-1 menunjukkan adanya gugus O-H dan pada bilangan gelombang 1064 cm-1 menunjukkan adanya serapan gugus C-O-C yang menunjukkan bahwa adanya ikatan glikosida dalam sturuktur nanoserat selulosa. Hasil analisa TEM, TGA dan FT-IR menunjukkan bahwa media oksidasi TEMPO dapat menghasilkan serat selulosa berukuran nano dari tandan kosong sawit.

  • Open Access Indonesian
    Authors: 
    Sihombing, Susilawati;
    Country: Indonesia

    131000150 Kebersihan perorangan yang buruk dan pemakaian Alat Pelindung Diri yang tidak memenuhi syarat dapat memberikan pengaruh negatif bagi kesehatan, salah satu pekerja yang berisiko terkena gangguan kulit adalah petani. Petani melakukan bervariasi pekerjaan yang menyebabkan mereka terpapar bahan kimia, biologi, dan bahan berbahaya lainnya. Pemakaian pakaian kerja, sarung tangan, dan penutup kepala yang berulang-ulang dan jarang dibersihkan akan mempermudah petani terkena keluhan penyakit kulit. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui personal hygiene, pemakaian Alat Pelindung Diri (APD) dan keluhan penyakit kulit pada Petani di Desa Gundaling II Kecamatan Berastagi tahun 2017. Jenis penelitian ini adalah penelitian yang bersifat deskriptif dengan jumlah sampel sebanyak 46 responden yang dipilih dengan metode simple random sampling. Metode yang digunakan adalah wawancara dengan memakai kuesioner dan observasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa distribusi Personal hygiene pada petani sebanyak 26 petani (56,5%) adalah buruk, mulai dari kebersihan tangan, kaki dan kuku sebanyak 28 petani (60,9%) tergolong buruk, kebersihan gigi dan mulut sebanyak 25 petani (54,3%) tergolong buruk dan kebersihan kulit sebanyak 23 petani (50,0%), distribusi berdasarkan pemakaian Alat Pelindung Diri (APD) pada petani adalah sebanyak 45 petani (97,8%) memiliki pemakaian alat pelindung diri dengan kategori kurang, dan distribusi berdasarkan keluhan penyakit kulit pada petani adalah sebanyak 27 petani (58,7%) mengalami keluhan penyakit kulit, keluhan penyakit kulit yang dirasakan petani yaitu, gatal-gatal sebanyak 14 orang (51,8), bercak kemerahan sebanyak 7 orang (25,9%), bentol-bentol sebanyak 4 orang(14,8%) dan kulit yang mengelupas seperti sisik 2 orang (7,4%). Diharapkan bagi petani untuk tetap dan semakin memperhatikan pentingnya personal hygiene dan pemakaian Alat Pelindung Diri (APD) saat bekerja sehingga tidak terkena penyakit kulit yang berhubungan dengan pertanian. Bagi pemerintahan Daerah melalui Dinas Kesehatan Kabupaten Karo, hendaknya melakukan usaha-usaha peningkatan penyuluhan khususnya tentang kesehatan perorangan dan pentingnya penggunaan alat pelindung diri secara lengkap untuk melindungi petani dari penyakit-penyakit yang berhubungan dengan pertanian. Poor personal hygiene and the use of inadequate Personal Protective Equipment can have a negative effect on health, one of the people at risk for skin disorders is the farmer. Farmers perform varying jobs that cause them to be exposed to chemicals, biologicals, and other hazardous materials. The use of repetitive work clothes, gloves, and headgear and rarely cleaned will make it easier for farmers to get complaints of skin disorders. The purpose of this research is to know the personal hygiene, the use of Personal Protective Equipment and complaints of skin disease at Farmers in Desa Gundaling II Kecamatan Berastagi in 2017. This research type is descriptive research with the number of samples of 46 respondents selected by simple random sampling method. The method used is interview by using questioner and observation. The results showed that the distribution of personal hygiene in farmers as many as 26 farmers (56.5%) was bad, ranging from hand hygiene, foot and nails as many as 28 farmers (60.9%) were poor, dental and mouth hygiene of 25 farmers (54 , 3%) is classified as bad and skin hygiene as much as 23 farmers (50.0%), distribution based on the use of Personal Protective Equipment (PPE) on farmers is as much as 45 farmers (97.8%) have the use of personal protective equipment with less category, and The distribution based on complaints of skin disorder on farmers were as many as 27 farmers (58.7%) experienced complaints of skin disorders, complaints of skin disorders perceived by farmers, the itching as many as 14 people (51.8), reddish patches of 7 people (25, 9%), bumps of 4 people (14.8%) and peeling skin such as scales 2 people (7.4%). It is expected that farmers to stay and pay more attention to the importance of personal hygiene and the use of Personal Protective Equipment (PPE) when working so as not to get skin diseases associated with agriculture. For local government through Karo District Health Office, it should make efforts to increase counseling especially about individual health and the importance of using complete personal protective equipment to protect farmers from agriculture-related diseases.

  • Open Access Indonesian
    Authors: 
    Ridho, Almizan;
    Country: Indonesia

    130801028 Jika suatu bintang masif dengan massa M berbentuk bola, maka kita dapat menghitung radius bola yang mengungkung massa M tersebut. Kemudian untuk mengubah bintang masif tersebut menjadi lubang hitam kita harus mengubah radius ini menjadi sedemikian rupa. Radius yang menjadikan suatu bintang masif menjadi lubang hitam inilah yang kemudian dinamakan Radius Schwarzschild. Dengan demikian, kita juga dapat mendefinisikan lubang hitam sebagai suatu bintang masif bermassa M yang seluruh massa bintang masif tersebut berada di dalam radius Schwarzschild-nya. Namun karena sulitnya melakukan perhitungan terhadap suatu objek yang amat besar dan amat masif di luar angkasa, maka diperlukan alat bantu khusus. Komputasi fisika dapat memecahkan kebuntuan perhitungan ini dengan beragam visualisasi yang dapat diamati untuk diteliti. Salah satu program bahasa tingkat tinggi dalam penelitian tentang fisika yang baik dalam perhitungan dan visualisasinya adalah Wolfram Mathematica. Maka perhitungan dan visualisasi lubang hitam Schwarzschild akan dikomputasikan menggunakan program ini. If the massive spherical star with mass M, then we can calculate the spherical radius that confines the mass M. In order to change massive starinto a black hole we have to turn this radius into such a way. The radius that makes an object into a black hole is then called Schwarzschild Radius. Thus, we can also define a black hole as an object of mass M that the entire mass of the massive star is within its Schwarzschild Radius. But it’s hard to do the calculation of a very large and very massive objects at the universe, then needed a special tool. Physical computation can break the deadlock of this calculation with a variety of visualizations that can be observed for examination. One of the best high-level language programs in research on physics in calculation and visualization is Wolfram Mathematica. Then the visualization of Schwarzschild's black hole will be used in this program.

  • Open Access Indonesian
    Authors: 
    Samosir, Rinike;
    Country: Indonesia

    131101079 Mioma uteri (tumor jinak uterus) yang paling sering ditemukan merupakan tumor jinak berbatas tegas dan neoplasma jinak ini berasal dari jaringan otot polos dan jaringan ikat yang menumpang. Mioma uteri dikenal juga dengan sebutan fibromioma, fibroid ataupun leiomioma. Insidensi mioma uteri sekitar 20% - 30% dari seluruh wanita di dunia. Di Indonesia, mioma uteri ditemukan 2,39% - 11,7% pada semua penderita ginekologi yang dirawat. Ada beberapa faktor risiko yang mempengaruhi kejadian mioma uteri seperti umur, usia menarche, paritas, IMT (Indeks Massa Tubuh), riwayat keluarga, pola menstruasi, dan penggunaan kontrasepsi. Tujuan dari penelitian ini untuk menganalisa faktor-faktor yang mempengaruhi kejadian mioma uteri pada wanita usia subur yang pernah dirawat di RS dr. Pirngadi Medan dan menganalisa faktor yang mempengaruhi, dengan metode deskriptif analitik. Populasi dalam penelitian ini sebanyak 147 orang dan sampel sebanyak 34 orang diambil dengan teknik porposive sampling. Data dianalisa dengan uji analisa univariat dan multivariat dengan uji analisa regresi linear ganda. Hasil penelitian menunjukkan ada 3 faktor yang paling berpengaruh pada wanita usia subur penderita mioma uteri yang pernah dirawat di RS dr. Pirngadi Medan yaitu umur dengan nilai p = 0,006 dan mayoritas responden pada kelompok umur 40-44 tahun (55,9%), paritas dengan nilai p = 0,009 dan mayoritas responden tidak memiliki anak atau paritas = 0 (52,9%) dan riwayat keluarga dengan nilai p = 0,019 dan mayoritas responden memiliki riwayat keluarga (52,9%). Penelitian ini diharapkan dapat menjadi sumber informasi yang relevan bagi pelayanan keperawatan dan pendidikan keperawatan dan untuk penelitian selanjutnya diharapkan dapat menambah jumlah responden sehingga hasil penelitian lebih akurat.

  • Open Access Indonesian
    Authors: 
    Hutapea, Cynthya Dorothy;
    Country: Indonesia

    130801045 Telah dirancang sebuah alat sebagai seismometer horizontal menggunakan GY-521 dan Arduino UNO ATMEGA 328P. Alat ini terdiri dari GY-521 modul MPU-6050 sebagai sensor vibrasi dan arduino UNO sebagai pengendali sistem. Perangkat lunak yang digunakan sebagai pengendali sistem adalah Arduino IDE. Cara kerja alat tersebut cukup sederhana yaitu accelerometer MPU-6050 mengukur amplitudo dan frekuensi dari kecepatan suatu getaran dan kemudian datanya akan dikirim ke arduino. Arduino UNO akan memproses data yang dikirim sensor, setelah itu data dari arduino ini akan dikirim dan tertampil di interface PC. Dari hasil pengukuran dapat diketahui bahwa sensor dapat mendeteksi getaran dan frekuensi yang rendah. Has designed device as a seismometer horizontal using GY-521 and Arduino UNO R3 ATMEGA 328P. This instrument consists of GY-521 MPU-6050 module as a vibration sensor and Arduino UNO system. Software used as controller system is Arduino IDE. Ways of working instrument was simple that is MPU-6050 accelerometer measuring amplitudes and frequency of the velocity of a vibration and then the data will be sent to arduino. Arduino UNO would process the data sent sensors , after that data from arduino this will be sent and displayed in interface PC. Of the measurement result it can be seen that sensors can be detect vibration and frequency of low.

  • Open Access Indonesian
    Authors: 
    Lestari, Ika Ayu;
    Country: Indonesia

    131401062 Dalam dunia kesehatan pengolahan citra cukup memberikan peranan penting, seperti mengolah citra hasil dokumentasi kolposkopi kanker serviks. Salah satu pengolahan citra yaitu deteksi tepi (Edge detection). Deteksi tepi (Edge detection) adalah operasi yang dijalankan untuk mendeteksi garis tepi (edges) yang membatasi dua wilayah citra homogen yang memiliki tingkat kecerahan yang berbeda. Deteksi tepi memiliki beberapa operator seperti operator Canny dan Isotropik. Deteksi tepi baik digunakan untuk mendeteksi hasil citra kolposkopi yang merupakan dokumentasi serviks dengan format file (*.png). Citra Kolposkopi akan di transformasi dengan transformasi nth root power untuk mendapatkan hasil citra deteksi yang lebih baik, kemudian dilakukan deteksi tepi dengan operator Canny dan Isotropik. Parameter keberhasilan sistem adalah perbandingan hasil diagnosa sistem dengan hasil diagnosa dokter. Diagnosa dokter terhadap 15 gambar menghasilkan nilai persentase akurasi 80%. Parameter untuk membandingkan kedua operator adalah running time, MSE dan PSNR. Rata-rata nilai running time Canny 0.3619206 ms sedangkan nilai running time Isotropik 1.49136262 ms. Dari perbandingan itu, operator Canny yang paling baik karna menghasilkan tepian yang lebih jelas dengan waktu yang cepat. Namun untuk nilai MSE yang terendah dan PSNR tertinggi dilakukan oleh operator Isotropik dengan nilai rata-rata MSE yaitu 11579,62 dan Nilai rata-rata PSNR yaitu 0,7556 dB. Image processing provides an important role in the world of health, for example to process image documentation of cervical cancer colposcopy results. One of the image processing itself is edge detection. Edge detection is an operation performed to detect borders that constrain two homogeneous imagery regions that have different brightness levels. Edge detection has several operators such as Canny and Isotropic operators. The edge detection is good to use for detecting image documentation of cervical cancer colposcopy with the file format (*.png). Colposcopy image will be transformed by nth root power transformation to get better detection result, then by Canny and Isotropic operator. The success parameter of it is the comparison between the diagnostic result of the system with the doctor's diagnosis. Doctor's diagnosis of 15 images yields an 80% accuracy percentage value. Parameters to compare both operators are running time, MSE and PSNR. Average running time value Canny is 0.3619206 ms while Isotropic get 1.49136262 ms. From that comparison, Canny operator is the best in this case because Canny produces a clearer edge with a fast time instead. However, for the lowest MSE value and the highest PSNR conducted by Isotropic operator with the average value of MSE is 11579.62 and the mean value of PSNR is 0.7556 dB.

  • Open Access Indonesian
    Authors: 
    Marbun, Nomi;
    Country: Indonesia

    131101149 Ketidakberhasilan remaja dalam menangani konfliknya disebabkan oleh tidak berfungsinya figur orangtua yang salah satunya adalah ayah sebagai pendamping remaja dalam setiap tahap peralihannya. Masalah yang kemudian muncul di masyarakat adalah pandangan bahwa tugas ayah hanya mencari nafkah dan peran lainnya terlupakan karena pada hakikatnya yang lebih di arahkan pada peran pemenuhan kebutuhan ekonomi keluarga yang kemudian dapat menyebabkan ketidakoptimalan peran ayah pada remaja. Metode penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah deskriptif korelasional. Berdasarkan hasil penelitian diperoleh bahwa peran ayah pada remaja di Kelurahan Padang Bulan Kecamatan Medan Baru dalam kategori baik (67,8%) dan remaja di Kelurahan Padang Bulan Kecamatan Medan Baru menangani konflik dengan kategori cukup (60,9%). Berdasarkan analisis data yang dilakukan dengan uji korelasi Spearman Rank diperoleh koefisien korelasi peran ayah pada remaja dengan penanganan konflik remaja 0,320 dengan taraf signifikansi dapat diterima dimana p=0,003. Hal tersebut menunjukkan bahwa ada hubungan yang signifikan antara peran ayah dengan penanganan konflik remaja dengan interpretasi hubungan lemah. Faktor-faktor yang mempengaruhi penanganan konflik remaja tidak mutlak hanya dari tingkat peran ayah saja, tetapi banyak faktor lain yang dapat mempengaruhi baik buruknya penanganan konflik. Peneliti menyarankan kepada ayah untuk lebih berperan serta mendampingi remaja dalam tahap perkembangan usia remaja. Adolescents? failure to handle their conflicts is caused by parents? dysfunction, especially fathers as the companions of adolescents in their transition. The problem which appears in society is that a father?s task is to earn a living while his other roles are neglected since he is focused on solving his family?s economic need so that his role in solving his children?s problem is not optimal. The research used descriptive correlation method. The result of the research showed that 67.8%) of fathers had good role in their children?s problems, and 60.9% of adolescents were in moderate category in handling their conflicts. The result of Spearman Rank correlation test showed that correlation coefficient between fathers role and adolescent in handling adolescence conflicts was 0.320 at the significance level of p = 0.003 which indicated that there was significant correlation of fathers? role with the handling of adolescence conflicts with weak interpretation. The factor of handling adolescence conflicts is not only by fathers? role but also by other factors. It is recommended that fathers have more roles and accompany their children during their transition period.

  • Open Access Indonesian
    Authors: 
    Handayani, Anisah Rizki;
    Country: Indonesia

    130801004 Telah dilakukan pembuatan magnet permanen Barium Heksaferit yang ditambahkan dengan FeMndengan variasi komposisi (0,5, 1, 3, 5, dan 10 %wt). Proses preparasi sampel dimulai dari penggilingan serbuk BaFe12O19 dengan penambahan FeMn dilakukan dengan cara wet milling menggunakan HEM dengan media toluen selama 30 menit. Sampel kemudian dikeringkan. Sampel di campur dengan seluna 3 wt% dan dicetak dengan gaya 10 ton selama 3 menit sehingga membentuk pelet dengan diameter 2 cm. Sampel yang telah dicetak kemudian di sintering dengan menggunakan vacuum furnace pada suhu 1100°C selama 2 jam dan dikarakterisasi meliputi sifat fisis ( true density), struktur kristal dengan XRD ( X-Ray Diffraction ), mikrostruktur dengan menggunakan PSA ( Paricle Size Analyzer ) dan SEM-EDS ( Scanning Electron Microscope – Energy Dispersif Spectroscope ) dan sifat magnetik menggunakan VSM ( Vibrating Sample Magnetometer ). Dari hasil pengukuran true density dan PSA menunjukkan bahwa nilai true density dan ukuran partikel cenderung menurun dengan penambahan FeMn yang semakin meningkat. Hasil analisis XRD menunjukkan terdapat fase BaFe12O19 dan fasa Fe2O3 pada sampel yang ditambahkan FeMn dan yang tidak ditambahakn. Terbentuknya fase Fe2O3 berkontribusi pada pengurangan sifat magnetik BaFe12O19 yang di doping dengan FeMn. Dari kurva histerisis dengan penambahan 1, 5, dan 10 wt% FeMn dapat menurunkan nilai remanensi dan saturasi dari BaFe12O19 dan meningkatkan nilai koersivitas BaFe12O19. Kondisi optimum terdapat pada penambahan 5 wt% FeMn dapat diketahui nilai densitas 5,034 g/cm3, nilai energi produksi (BHmax) 0,4858 MGOe, saturasi magnetik (Ms ) 44,72 emu/g, remanensi (Mr) 25,43 emu/g, koersivitas (Hc) 1,76 KOe. Pengaruh dari sintering pada sifat magnet membuat nilai koersivitas dari sampel berkurang sehingga sifat magnetnya menjadi lebih soft magnetik diduga adanya perubahan fasa pada sampel yang telah disinter. Penambahan FeMn cenderung menurunkan nilai densitas,dan sifat magnet dari BaFe12O19. The preparation of permanent barium hexaferrite magnet has been done by adding FeMn with varied compositions of 0,5, 1, 3, 5, and 10 % wt. The sample of preparation process was begin with milling BaFe12O19powder and adding FeMn which was done the wet milling way by using HEM with toluene media for 30 minutes. Then the sample was dried. After drying, the sample was mixed with seluna 3 wt% and pressed with hydraulic press with 10 ton of force for 3 minutes to produce pellet with diameter of 2 cm. The pellet then sintered by using vacuum furnace at a temperature of 1100°C for 2 hours and was characterized including physical property (true density), crystal structure with XRD ( X – Ray Diffraction ), microstructure using PSA ( Particle Size Analyzer ) and SEM-EDS ( Energy Dispersif Spectroscopy ), and magnetic property using VSM ( Vibrating Sample Magnetometer ). From the result of true density and PSA measurement, it was shown that the value of true density and the size of particle tent to decrease by the addition of FeMn which keep increas. The result of XRD analysis showed there were BaFe12O19 phase and Fe2O3 phase on the sample added by FeMn. The formation of Fe2O3 contributes to the reduction of magnetic properties of BaFe12O19which is doped with FeMn. From the hysteresis curve with 1, 5, and 10 wt% addition of FeMndecreased the value of remanence and saturation of BaFe12O19also increased the value of coercivity of BaFe12O19 . The optimum condition was found in the addition of 5 wt% FeMn with true density value 5.034 g/cm3, the value of production of energy (BHmax) 0.4858 MGOe, magnetic of saturation (Ms) 44.72 emu/g, remanensi (Mr.) 25.43 emu/g, coercivity (Hc) 1.76 KOe. The effect of sintering on the properties of magnets makes the value of coercivity from the sample is reduced so that the magnetic properties of soft magnetic becomes even suspected the existence of phase change in the sample which have been sintered. The addition of FeMn tendt to lower the value of the density andmagnetic properties of BaFe12O19.

Send a message
How can we help?
We usually respond in a few hours.